Tolong Buatkan Contoh Kasus Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang!

Tolong Buatkan Contoh Kasus Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang! – Jurnal penyesuaian adalah jurnal untuk mengadakan penyesuaian catatan-catatan dengan keadaan atau fakta yang sebenarnya pada akhir periode.

Tujuan pembuatan jurnal penyesuaian adalah agar setiap perkiraan riil dan perkiraan nominal dapat menunjukkan besarnya harta, utang, modal, pendapatan, dan beban yang sebenarnya dan seharusnya diakui pada akhir periode.

Jurnal penyesuaian disusun berdasarkan data dari neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode. Tidak semua akun-akun yang ada di neraca saldo dibuatkan jurnal penyesuaian, akun-akun yang perlu dibuatkan jurnal penyesuaian adalah :

No Macam Penyesuaian Jurnal Penyesuaian
1 Pemakaian perlengkapan Beban Perlengkapan

Perlengkapan

2 Piutang pendapatan/pendapatan yang masih harus diterima Piutang……

Pendapatan……

3 Hutang beban/beban yang masih harus dibayar Beban……

Hutang……

4 Hutang pendapatan/pendapatan diterima dimuka

a.    Dicatat sebagai pendapatan diterima dimuka (hutang/neraca)

b.   Dicatat sebagai pendapatan….. (laba rugi)

……diterima dimuka

Pendapatan……

Pendapatan……

……diterima dimuka

5 Beban dibayar dimuka

a.    Dicatat sebagai hutang/pendekatan Neraca

b.   Dicatat sebagai beban/pendekatan laba rugi

Beban……

……dibayar dimuka

……dibayar dimuka

Beban……

6 Kerugian piutang/piutang yang tak tertagih Beban Kerugian Piutang

Cadangan Kerugian Piutang

7 Penyusutan aktiva tetap Beban Penyusutan……

Akumulasi Penyusutan……

8 Persediaan barang dagangan

a.    Pendekatan Ikhtisar Laba Rugi

b.   Pendekatan Harga Pokok Penjualan

Ikhtisar L/R

Persediaan Barang Dagang (awal)

Persediaan Barang Dagang (akhir)

Ikhtisar L/R

Harga Pokok Penjualan

Persediaan Barang Dagang (awal)

Pembelian

Beban Angkut Pembelian

Persediaan Barang Dagang (akhir)

Retur Pembelian

Potongan Pembelian

Harga Pokok Penjualan

Contoh jurnal penyesuaian :

1. Pemakaian Perlengkapan

Dalam pembuatan jurnal penyesuaian untuk pemakaian perlengkapan, yang perlu diingat adalah dalam mengisi nominal dari jurnal tersebut adalah nominal perlengkapan yang sudah digunakan.

Contoh :

Pada tanggal 1 Juni 2013, saldo akun perlengkapan berjumlah Rp. 3.500.000,-. Pada akhir periode perlengkapan yang tersisa berjumlah Rp. 500.00,-

Perhitungan :
Perlengkapan yang digunakan = Rp 3.500.000,- – Rp 500.000,-
= Rp 3.000.000,-
Jurnal Penyesuaian :

Beban Perlengkapan                                                Rp 3.000.000,-

Perlengkapan                                                               Rp 3.000.000,-

2. Pendapatan Yang Masih Harus Diterima/Piutang Pendapatan

Pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan yang sudah dapat direalisasi dalam suatu periode, tetapi belum diakui sebagai penghasilan.

Contoh :

Pekerjaan jasa yang telah selesai dikerjakan pada bulan Juni 2013 tetapi belum diserahkan kepada pemesan seharga Rp 5.200.000,-

Jurnal Penyesuaian :

Piutang Pendapatan                                     Rp 5.200.000,-

Pendapatan                                                                 Rp 5.200.000,-

3. Beban Yang Masih Harus Dibayar/Hutang Beban

Beban yang masih harus dibayar adalah beban yang masih harus dikeluarkan oleh perusahaan pada akhir periode.

Contoh :

Perusahaan mempekerjakan 5 pekerja dengan upah @Rp. 50.000,- per hari. Upah dibayarkan setiap hari Sabtu untuk masa enam hari kerja. Pembayaran upah terakhir dilakukan pada hari Sabtu tanggal 29 Desember 2013. Beban upah yang masih harus dibayar pada tanggal 31 Desember 2013 adalah satu hari, yaitu Senin, 31 Desember 2013.

Perhitungan :
5 (pekerja) x 1 (hari) x Rp 50.000,- = Rp 250.000,-
Jurnal penyesuaian :

Beban Gaji                                                   Rp 250.000,-

Hutang Gaji                                                                Rp 250.000,-

4. Pendapatan Diterima Dimuka/Hutang Pendapatan

Pendapatan diterima dimuka adalah pendapatan yang diterima lebih dahulu atas pembayaran transaksi yang belum dilakukan kepada pelanggan.

1. Dicatat sebagai akun pendapatan diterima dimuka (hutang/neraca)

Apabila perusahaan menggunakan pendekatan neraca, maka perusahaan akan mencatat uang yang diterima sebagai pendapatan diterima di muka (utang) dan akan diakui sebagai pendapatan bila perusahaan telah melakukan pekerjaan yang diminta oleh pelanggan.

Contoh :

Pada tanggal 1 Mei 2013, diterima pembayaran sewa gedung sebesar Rp. 3.600.000,- untuk masa satu tahun.

Perhitungan :
1 mei s/d 31 des = 8 bulan
8/12 x Rp 3.600.000,- = Rp 2.400.000,-
Jurnal Penyesuaian :

Sewa Diterima Dimuka                         Rp 2.400.000,-

Pendapatan Sewa                                                 Rp 2.400.000,-

2. Dicatat sebagai akun pendapatan…..
Perhitungan :

Karena dicatat sebagai akun pendapatan sewa, maka perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan sebesar Rp 2.400.000,- yaitu dari 1 mei sampai dengan 31 desember, maka untuk mengisi saldo di jurnal penyesuaian perhitungannya :

Rp 3.600.000,-Rp 2.400.000,- = Rp 1.200.000,-
Jurnal penyesuaian :

Pendapatan Sewa                                   Rp 1.200.000,

Sewa Diterima Dimuka                                        Rp 1.200.000,-

5. Beban Dibayar Dimuka

Beban dibayar dimuka adalah beban yang sudah dibayar tetapi belum dibebankan sebagai beban pada periode itu. Beban dibayar di muka ini sering timbul apabila perusahaan membayar biaya-biaya untuk beberapa periode sekaligus, sehingga dari jumlah pengeluaran tadi sebagian akan menjadi beban periode itu dan sebagian lagi akan dibebankan pada periode mendatang.

1. Dicatat sebagai harta

Artinya pada neraca saldo awal periode, akun yang ada di neraca saldo adalah akun harta, bukan akun beban.

Contoh :

Pada tanggal 1 September 2013, dibayar sewa gedung sebesar Rp. 4.800.000,- untuk masa satu tahun.

Perhitungan :

Karena dicatat sebagai harta, maka akun yang ingin disesuaikan adalah harta. Beban yang diakui pada periode tersebut hanya 4 bulan

1 sep s/d 31 des = 4 bulan
4/12 x Rp 4.800.000,- = Rp 1.600.000,-
Jurnal Penyesuaian :

Beban Sewa                                            Rp 1.600.000,-

Sewa Dibayar Dimuka                                         Rp 1.600.000,-

2. Dicatat sebagai beban
Perhitungan :
8/12 x Rp 4.800.000,-= Rp 3.200.000,-
Jurnal penyesuaian :

Sewa Dibayar Dimuka                            Rp 3.200.000,-

Beban Sewa                                                         Rp 3.200.000,-

6. Kerugian Piutang/Piutang Yang Tidak Tertagih

Piutang merupakan kewajiban pihak luar perusahaan kepada perusahaan. Piutang dagang timbul dari penjualan kredit barang dan jasa. Pada umumnya tidak semua piutang akan dapat ditagih, sehingga kerugian yang timbul akan dicatat sebagai kerugian piutang.

Contoh :

Tanggal 31 Desember 2013 PD MAJU memiliki piutang sebesar Rp 7.000.000,00. Perusahaan menetapkan besar kerugian piutang adalah 10% dari total piutang.

Perhitungan :
Kerugian piutang = 10% x Rp 7.000.000,-= Rp 700.000,-
Jurnal Penyesuaian :

Beban Kerugian Piutang                               Rp 700.000,-

Cadangan Kerugian Piutang                                       Rp 700.000,-

7. Penyusutan Aktiva Tetap

Yang dimaksud dengan penyusutan aktiva tetap adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap yang dibebankan pada suatu periode tertentu. Pembebanan bebanpenyusutan ini biasanya dilakukan pada akhir periode. Beban penyusutan yang dibebankan dihitung dengan cara taksiran, karena jumlahnya tergantung pada tiga faktor yaitu harga perolehan, taksiran umur ekonomis, dan taksiran nilai residu.

Contoh :

Sebuah perusahaan membeli mesin dengan harga perolehan sebesar Rp 360.000.000,- . Diperkirakan nilai residu dari mesin tersebut setelah 12 tahun dipakai adalah sebesar Rp 60.000.000,-

Perhitungan :
Rp 360.000.000,-Rp 60.000.000,-= Rp 25.000.000,- per tahun
                               12 tahun
Jurnal penyesuaian :

Beban Penyusutan Mesin                     Rp 25.000.000,-

Akumulasi Penyusutan Mesin                         Rp 25.000.000,-

8. Persediaan Barang Dagangan

Persediaan barang dagangan harus dilakukan penyesuaian karena pada akhir periode akuntansi jumlah persediaan awal barang dagangan disesuaikan menjadi persediaan akhir barang dagangan.

1. Metode ikhtisar laba rugi

Ketika perusahaan memutuskan untuk menggunakan metode ikhtisar laba rugi, maka ada 2 langkah yang dilakukan yaitu :

  1. Memindahkan jumlah persediaan awal barang dagangan kea kun ikhtisar laba rugi. Akibatnya, terjadi perubahan status akun persediaan barang dagangan yang tergolong dalam akun riil menjadi akun nominal, hal ini karena persediaan awal merupakan bagian dari harga pokok barang yang telah terjual.
  2. Mendebet jumlah akun persediaan akhir barang dagangan dan mengkredit akun ikhtisar laba rugi untuk melihat pengurangan nilai barang dagangan yang tersedia untuk dijual.
Contoh :

Dalam neraca saldo PD NUSA 30 Desember 2013, akun persediaan barang dagang seharga Rp 145.000.000,-

Data penyesuaian, harga persediaan barang dagang akhir adalah Rp 122.500.000,-

Jurnal Penyesuaian :

Ikhtisar Laba Rugi                                  Rp 145.000.000,-

Persediaan Barang Dagang (Awal)                    Rp 145.000.000,-

Persediaan Barang Dagang (Akhir)         Rp 122.500.000,-

Ikhtisar Laba Rugi                                              Rp 122.500.000,-

2. Metode Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan adalah dasar perhitungan keuntungan atau laba yang ditetapkan perusahaan, atau harga perolehan barang yang terjual.

Contoh :

Dalam neraca saldo PD NUSA diketahui data sebagai berikut :

Persediaan barang dagang          Rp.6.500.000,-

Pembelian                                   Rp. 35.000.000,-

Retur pembelian                          Rp.     650.000,-

Beban angkut pembelian            Rp.     250.000,-

Potongan pembelian                   Rp.200.000,-

Data penyesuaian menunjukkan persediaan barang dagang akhir sebesar Rp. 10.000.000,-.

Jurnal Penyesuaian :

Harga Pokok Penjualan                          Rp 41.750.000,-

Pembelian                                                              Rp 35.000.000,-

Beban Angkut Pembelian                                     Rp     250.000,-

Persediaan Barang Dagang (Awal)                     Rp   6.500.000,-

Retur Pembelian                                       Rp     650.000,-

Potongan Pembelian                                Rp     200.000,-

Persediaan Barang Dagang (Akhir)      Rp 10.000.000,-

Harga Pokok Penjualan                                          Rp 10.850.000,-

Beri Tanggapan