Jelaskanlah Bagaimana Reaksi Bangsa Indonesia Melawan Jepang Sebelum Proklamasi!

Jelaskanlah Bagaimana Reaksi Bangsa Indonesia Melawan Jepang Sebelum Proklamasi! Jepang datang untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa barat. Untuk itu perlu bantuan rakyat setempat agar maksud tersebut dapat tercapai, Bangsa Indonesia diharuskan memberikan bantuan berupa hasil-hasil alam maupun tenaga. Makin banyak bantuan diberikan, makin cepat pembebasan dicapai.

Reaksi Bangsa Indonesia Melawan Jepang Sebelum Proklamasi

Sesungguhnyalah di jaman Jepang bangsa Indonesia tidak hidup dalam lingkungan Kemakmuran Bersamamelainkan Lingkungan Kemiskinan Bersama. Namun orang Indonesia tentulah tidak dapat ditipu, karena itu sikap ramah bangsa Indonesia mengalami perubahan.

Bangsa Indonesia berusaha melawan, meskipun kerap kali dengan cara yang terselubung.  Di Indonesia terdapat berbagai kekuatan sosial politik yang memperjuangkan tercapainya tujuan Indonesia Merdeka. Diantaranya:

  1. Golongan pangreh praja dan pegawai
  2. Para santri dan ulama islam
  3. Golongan sosialis dibawah Syahrir sejak semula sudah memusuhi Jepang karena alasan ideologis
  4. Golongan komunis dibawah Amir Syarifuddin, seorang sosialis (kiri)
  5. Golongan pemuda yang mempunyai prinsip mirip dengan golongan kumunis
  6. Golongan Pemuda Menteng, erat berhubungan dengan golongan Kaigun, pegawai- pegawai pada dinas Angkatan Laut yang dipimpin oleh A. Subarjo
  7. Golongan Nasionalis non agama dibawah Sukarno- Hatta.

Disamping gerakan-gerakan perlawanan yang tersebut diatas, pada akhir penjajahan Jepang terjadi pula gerakan perlawanan terang-terangan, yaitu yang memnggunakan kekerasan. Karena penindasan yang tiada tertahankan terjadilah pemberontakan rakyat di Tasikmalaya dan Indramayu.

Tetapi yang lebih berarti adalah pemberontakan Peta di Blitar ( 14 Februari 1945) yang dipimpin oleh Supriyadi, seorang shodanco dari daidan Blitar. Mereka sendiri nasibnya tidak begitu sengsara, tetapi umumnya tiada tahan melihat penderitaan rakyat. Semua pemberontakan ini dapat mudah dipadamkan, karena memang tidak punya kekuatan sennjata untuk menang.

Jepang dengan mudah melokalisir pemberontakan itu. Namun pemberontakan itu cukup mendebarkan Jepang, sehingga mempercepat tindak lanjut dari pernyataan koiso, terbukti pada 1 Maret dikeluarkanlah keputusan pembentukan BPUPKI.

Dalam bulan Agustus, perubahan bertambah cepat. Pada tanggal 7 Agustus, Jendral Terauchi menyetujui pembentukan Panitia PersiapanKemerdekaan Indonesia (PPKI = Dokuritzu Zyunbi Inkai) yang bertugas melanjutkan pekerjaan BPUPKI dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan karena akan diadakannya pemindahaan kekuasaan dari Jepang kepada bangsa Indonesia

Anggota PPKI terdiri atas seluruhnya 21 orang Indonesia dan diketuai oleh Sukarno, sedang Hatta menjadi wakil ketuanya. PPKI secara simbolik dilantik oleh Jendral Terauchi dengan mendatangkan Sukarno-Hatta ke Saigon pada tanggal 9 Agustus 1945.

Sementara itu pada tanggal 15 Agustus Syahrir telah mendengar kabar bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Karena itu ia mendesak supaya proklamasi segera dikalsanakan. Namun Sukarno-Hatta belum bersedia karena kabar itu baru diterima lewat radio gelap.  Setelah kabar resmi tentang penyerahan Jepang diterima, Sukarno-Hatta dan para pemuda diantaranya Sukarni kembali ke Jakarta.

Sementara itu pada malam hari tanggal 15 Agustus terjadi dua hal penting, yaitu persiapan rapat PPKI dan rapat Gerakan Pemuda. Setelah Jepang diberitakan menyerah, PPKI akan mengadakan rapat pada tanggal 16 Agustus pagi. Undangan kilat telah disampaikan kepada para anggota yang pada waktu itu telah berkumpul di Jakarta. Rapat akan diadakan di Hotel Des Indes (duta Indonesia).

Rapat yang semula dierencanakan merupakan rapat PPKI itu kini diikuti pula oleh anggota-anggota Cuo Sangi In dan pemimpin-pemimpin pemuda. Rapat berlangsung pukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus 1945. Hasilnya adalah rumusan teks proklamasi yang akan diumumkan pada hari itu juga pukul 10 pagi, teks tersebut adalah teks yang resmi dan ditandatangani oleh dwitunggal Sukarno-Hatta. Dan Sukarnolah nanti pada pukul 10 pagi harus membacakan teks tersebut, dan bertempat dirumahnya, jalan Pegangsaan Timur No 56.

Setelah itu dikibarkan pula Sang Saka dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Karena Jepang menyiarkan proklamasi itu , maka penyiarannya dilakukan secara gelap baik lewat radio maupun dengan pamflet- pamflet dan edaran-edaran maupun dari mulut ke mulut.

Beri Tanggapan