Ciri – Ciri Eubacteria dan Archaebacteria

Materi kali ini akan dibahas mengenai dua jenis bakteri yaitu Arkaebakteri  (archaebacteria) dan Eubakteri  (eurobacteria). Kedua jenis bakteri ini sering kali dibahas pada mata pelajaran biologi dan mengetahui mengenai kedua jenis bakteri ini sangatlah penting dan bisa menambah ilmu pengetahuan.

Secara Evolusioner, mereka memiliki beberapa hal yang sama dengan bakteri dan beberapa hal dengan organisme eukariotik (seperti kita). Meskipun mereka adalah organisme yang pertama dikenal hidup di bumi, mereka masih ada, dan kita terus belajar lebih banyak tentang organisme luar biasa ini yang hidup di lingkungan yang umumnya kita menganggap tidak mungkin untuk dihuni.

Setelah Carl Woose melakukan analisis molekular, maka Archaebacteria yang semula dikelompokkan dengan Eubacteria dalam Kingdom Monera sekarang menjadi kelompok yang terpisah. Sekarang Kingdom Monera tidak dipakai lagi dan sebagia gantinya muncul kingdom Archaebacteria dan Eubacteria. Archaebacteria dan Eubacteria dibedakan berdasarkan perbedaan genetiknya. Sementara persamaan ciri Archaebacteria dan Eubacteria dalam hal keduanya tidak memiliki membran inti sel sehingga disebut organime prokariotik.

Pengertian Eubacteria dan  Archaebacteria

Eubacteria adalah bakteri yang sejati. Mereka memiliki peran yang tak terhitung jumlahnya, termasuk dekomposisi dan daur ulang nutrisi, pencernaan dan penyakit. Eubacteria ini merupakan salah satu jenis bakteri yang juga seirng disebut sebagai organism yang tidak memiliki klorofil. Bakteri ini bisa hidup di berbagai tempat dan juga disebut dengan istilah cosmopolitan. Di dalam tubuh euabacteria ini memiliki dinding sel yang menyebabkan tubuh euabacteria menjadi kaku. Cara berkembang biak euabacteria ini adalah dengan cara aseksual dan seksual. Menurut pembentuk dinding selnya, bakteri ini dibagi menjadi dua jenis yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Archaebacteria (bakteri purba) adalah prokariota pertama dan tinggal di lingkungan yang ekstrim. Archaebacteria merupakan salah satu jenis bakteri yang paling tua di muka bumi ini. bentuknya sangat beragam bisa bulat, spiral atau bentuk yang tidak beraturan bahkan beberapa jenisnya ada yang berbentuk filament atau koloni. Sebenarnya banyak orang yang lebih senang menganggap bakteri ini sebagai eukarotik dibandingkan sebagai bakteri. Hal ini disebabkan karena transkripsi dan translasi hidupnya lebih mirip dengan eukarotik.

Cara reproduksi dari bakteri archaebacteria juga bermacam-macam ada yang melakukan pembelahan diri, bertunas atau secara aseksual (fragmentasi). Jenis bacteri ini juga seringkali disebut sebagai organism ekstermofil karena bisa hidup di tempat yang kondisinya sangat esktrem seperti bisa hidup di dalam air yang suhunya sangat panas seperti di mata air pegunungan asli atau bahkan sangat dingin seperti di dalam samudera. Archaebacteria menurut tempat tinggalnya kemudian dibagi menjadi tiga jenis yaitu ekstrem halofil, metanogen dan termoasidofil.

READ:  Sebutkan Empat Zona Ekosistem Air Laut!

Ciri – Ciri dan Karakterisitk Eubacteria dan Archaebacteria

Persamaan dan perbedaan archaebacteria dan eubacteria dalam bentuk tabel berikut:

Ciri-ciri

Archaebacteria

Eubacteria

Nukleus (Inti Sel)

Prokarotik

Prokarotik

Dinding sel

Pseudopeptidoglikan

Peptidoglikan

Membran sel

Lipid dengan ikatan eter

Lipid dengan ikatan ester

RNA Polimerase

Lebih dari satu jenis

Satu jenis

Respon terhadap antibiotik

Pertumbuhan tidak terhambat

Pertumbuhan terhambat

Reproduksi

Reproduksi aseksual, transfer gen horizontal

Reproduksi aseksual, transfer gen horizontal

Ciri-ciri umum Eubacteria adalah sebagai berikut ;

  1. Uniseluler prokariotik
  2. Memiliki dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan (gula dan protein)
  3. Ukuran tubuhnya sekitar 1 – 5 mikron
  4. Apabila berada di lingkungan yang kurang menguntungkan akan membentuk endospora
  5. Ada yang memiliki flagel dan ada juga yang tidak memiliki flagel
  6. Hidup kosmopolitan, artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara, air, bahkan tubuh manusia
  7. Berkembang biak dengan cara membelah diri, konjugasi , transformasi dan transduksi (pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
  8. Dapat mensekresikan lendir ke permukaan dinding sel membentuk Kapsul. Fungsi kapsul adalah untuk perlindungan dari kekeringan. Kapsul tersusun dari glikoprotein (protein dan glikogen)
  9. Ada yang memiliki klorofil, ada pula yang tidak berklorofil

Ciri-ciri umum Archaebacteria adalah sebagai berikut ;

  1. Ukuran archaebacteria 0,1-15 mikron.
  2. Archaebacteria Memiliki dinding sel.
  3. Dinding sel terdiri dari polisakarida dan protein bukan peptidoglikan
  4. Archaebacteria adalah organisme uniseluler prokariotik (tidak memiliki nukleus dan membran inti sel).
  5. Asam nukleat archaebacteria berupa RNA.
  6. Archaebacteria Dapat tinggal di lingkungan ekstrim: lingkungan dengan derajat keasaman, suhu, dan kadar garam yang sangat tinggi.
  7. Reproduksi dengan cara pembelahan biner, pembentukan tunas, fragmentasi

Perbedaan Karakteristik Archaebacteria dan Eubacteria pada tabel berikut ini ;

Karakteristik             Archaebacteria Eubacteria
Peptidoglikan di dinding sel             Tidak ada Ada
Lipid membran          Hidrokarbon bercabang Hidrokarbon tidak bercabang
RNA Polimerase            Beberapa jenis Satu jenis
Respon terhadap antibiotic Streptomisin dan kloramfenikol

Intron (gen yang tidak diterjemahkan)

      Pertumbuhan tidak terhambat

 

Ada

Pertumbuhan terhambat

 

Tidak ada

  Karakteristik yang dimiliki oleh Eubacteria antara lain :

  1. Telah mempunyai organel sel berupa ribosom yang mengandung satu jenis ARN polimerase
  2. Membran plasmanya mengandung lipid dan ikatan ester
  3. Sel bakteri meiliki kemampuan untuk mensekresikan lendir
  4. Stoplasma bakteri terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, ion organik, kromatopora, ribosom dan asam nukleat sebagai penyusun RNA dan DNA.

Karakteristik yang dimiliki oleh Archaebacteria antara lain :

  1. Sel Penyusun tubuhnya bertipe prokariotik
  2. Memiliki RNA polimerase yang sederhana
  3. Dinding sel bukan dari peptidoglikan
  4. Tidak memiliki membran nukleus dan tidak memiliki organel sel
  5. ARNt-nya berupa metionin
  6. Sensitif terhadap toksin dipteri

Klasifikasi dan Peranan Eubacteria dan  Archaebacteria

Eubacteria sering terlibat dalam hubungan simbiosis dengan organisme lain. Ini adalah interaksi yang erat antara dua spesies yang berbeda. Contoh dari hubungan simbiosis antara bakteri yang hidup dalam usus kita dan membantu kita mendapatkan nutrisi yang kita butuhkan serta bakteri yang memperbaiki nitrogen dari atmosfer sehingga tanaman dapat menggunakannya.

Klasifikasi Eubacteria

Berdasarkan cara memperoleh makanan, bakteri dibedakan:

  1. Bakteri Heterotrof (tidak mampu menyusun makanan sendiri), yang terdiri dari (1) Parasit: mengambil nutrisi dari organisme yang masih hidup. Contohnya Escherichia coli; (2) Saprofit·yang mengambil nutrisi dari organisme yang telah mati. Contohnya Mycobacterium tuberculosis.
  2. Bakteri Autotrof (dapat menyusun makanannya sendiri), yang terdiri dari (1) fotoautotrof yakni menggunakan sumber energi cahaya matahari, contohnya bakteri hijau (bakterioklorofil) dan bakteri ungu (bakteriopurpurin); (2) kemoautotrof yakni menggunakan sumber energi kimia, contohnya Nitrobacter, Nitrosomonas, dan Nitrosococcus.

Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri dibedakan:

  1. Bakteri Aerob yakni bakteri yang membutuhkan O2 bebas, contohnya Nitrosomonas dan Mycobacterium tuberculosis.
  2. Bakteri Anaerob yakni bakteri yang TIDAK membutuhkan O2 bebas, Contohnya Clostridium tetani dan bakteri denitrifikasi.

Berdasarkan bentuknya, bakteri dibedakan:

Bentuk Bakteri

Macam

Contoh

 Batang (bacillus)

a)      monobasilus

Escherichia coli

b)      diplobasil

Salmonella typhosa

c)      streptobasil

Bacillus anthracis

Bola (coccus)

a)      monokokus

Neisseria gonorrhoeae

b)      diplokokus

Diplococcus pneumoniae

c)      streptokokus

Streptococcus mutans

d)      sarkina

Thiosarcina rosea

e)      stafilokokus

Staphylococcus aureus

Spiral (spirillum)

a)      vibrio

Vibrio cholerae

b)      spirochaeta

Treponema paliidium

c)      spirillum

Thiospirillopsis floridana

Berdasarkan letak flagelanya, bakteri dibedakan:

  1. Atrik adalah bakteri yang tidak memiliki flagela.
  2. Monotrik adalah bakteri yang memiliki satu flagela dan melekat pada salah satu ujung sel.
  3. Lofotrik adalah bakteri yang memiliki banyak flagela dan melekat pada salah satu ujung sel.
  4. Amfitrik adalah bakteri yang memiliki satu flagela dan masing-masing melekat pada kedua ujung sel.
  5. Peritrik adalah bakteri yang memiliki flagela yang tersebar pada seluruh pemukaan sel.

Peranan Eubacteria

Peranan bakteri yang menguntungkan manusia yakni:

  1. Escherichia coli, penghuni colon manusia yang membantu membusukkan makanan dan pembentukan vitamin K.
  2. Lactobacillus casei, digunakan dalam proses pembuatan keju.
  3. Acetobacter xylinum, untuk pembuatan nata de coco.
  4. Clostridium butiricum, penghasil asam butirat.
  5. Lactobacillus bulgaricus, untuk pembuatan susu masam (yoghurt).
  6. Streptomyces griceus, penghasil antibiotik streptomisin.
  7. Bakteri nitrifikasi, membantu pembentukan nitrat dalam tanah, seperti Nitrosomonas, Nitrosococcus, dan Nitrobacter.
  8. Rhizobium leguminosorum, bersimbiosis mutualisme dengan akar tumbuhan polong-polongan, berfungsi mengikat nitrogen bebas dari udara

Peranan bakteri yang merugikan manusia

  1. Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit TBC
  2. Treponema pallidum, penyebab penyakit raja singa (sifilis)
  3. Vibrio cholerae, penyebab kolera
  4. Shigella dysenteriae, penyebab disentri

Klasifikasi Archaebacteria

Berdasarkan habitatnya, Archaeobakteria dibedakan menjadi:

  1. Metanogen adalah Archaebacteria yang hidup pada lingkungan anaerobik yang ekstrim seperti pada lumpur di dasar rawa dan danau, saluran pencernaan hewan dan manusia, serta di bawah lapisan es Greenland. Kelompok ini mampu menghasilkan gas metana (CH4) dari H2 dan CO2. Contoh: Lachnospira multiporus (memecah pektin), Succinomonas amylolytica dan Ruminococcus albus (memecah selulosa).
  2. Halofil adalah Archaebacteria yang hidup pada habitat yang berkadar garam tinggi 12 – 15% (sementara kadar garam air laut sekitar 3,5%). Contoh: genus Halobacterium, Halorubrum, Halococcus, dan Haloarcula.
  3. Termofil adalah Archaebacteria yang hidup pada lingkungan bersuhu tinggi dan bersifat asam. Contohnya genus Sulfolobus dan Pyrolobus fumarii.

Peranan Archaebacteria

  1. Enzim archaebacteria dapat ditambahkan ke sabun cuci (deterjen) dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan sabun cuci terhadap suhu dan pH yang tinggi.
  2. Dapat digunakan untuk mengatasi pencemaran tumpahan minyak di laut.
  3. Digunakan industri untuk mengubah amilum menjadi dekstrin.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *