Paradigma Teks Anekdot

Teks anekdot ialah sebuah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Teks anekdot dapat berisi peristiwa-peristiwa yang membuat jengkel atau konyol bagi partisipan yang mengalaminya. Munculnya teks anekdot sebagai teks yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia baru disampaikan secara tersurat dalam Kurikulum 2013.

Teks anekdot merupakan sebuah cerita singkat, namun lucu dan isinya berupa sindiran. Teks ini diklaim para pendidik sebagai materi sastra baru karena dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tidak tercantum. Fatimah menjelaskan bahwa dalam dunia pembelajaran bahasa, istilah anekdot telah muncul dalam pembelajaran bahasa Inggris Kurikulum 2004. Sementara itu munculnya teks anekdot sebagai teks yang diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia baru disampaikan secara tersurat dalam Kurikulum 2013. Sesuai dengan prinsip pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum tersebut yakni berbasis teks, maka teks anekdot menjadi salah satu teks yang wajib dipelajari siswa. Hanya saja teks anekdot tidak diperkenalkan sejak SMP, tetapi baru dikenalkan mulai SMA/ MA.

Ciri – ciri dan Struktur Teks Anekdot

Adapun ciri ciri teks anekdot ialah sebagaimana berikut ini :

  1. Biasanya menunjukkan karakter binatang dan figur manusia.
  2. Sifatnya adalah humoris.
  3. Bentuknya adalah sindiran.
  4. Dimaksudkan terhadap orang orang penting contohnya adalah pejabat.
  5. Berhubungan dengan kenyataan atau realitas, walaupun anekdot jika dibandingkan dengan perumpaan memiliki perbedaan.
  6. Lebih mirip dengan perumpamaan mengenai dongeng.

Seperti halnya dengan jenis teks yang lain, teks anekdot sama sama memiliki struktur. Di bawah ini beberapa keterangan tentang struktur teks anekdot :

  1. Abstraksi, adalah bagian teks anekdot yang letaknya berada di awal paragraf yang memiliki fungsi untuk mendeskripsikan secara jelas mengenai isi teks anekdot.
  2. Orientasi, struktur teks anekdot yang memberikan gambaran kondisi dan situasi yang berlangsung di permulaan cerita
  3. Event adalah keterangan dan penjelasan masing masing susunan sebuah cerita yang sedang berlangsung.
  4. Krisis, adalah masalah utama dari sebuah teks anekdot
  5. Reaksi yakni metode dan solusi dalam menyelesaikan sebuah masalah yang muncul dari bagian krisis tersebut
  6. Koda, adalah suasana yang berubah dari masing masing tokoh dan kondisi secara keseluruhan.
  7. Re-Orientasi adalah sebuah tahap akhir atau penutup teks anekdot.

Keterampilan Menulis Teks Anekdot

Manusia memiliki empat jenis keterampilan berbahasa yang keempatnya merupakan satu kesatuan atau disebut catur-tunggal. Menurut Tarigan,  keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu:

  1. keterampilan menyimak (listening skill);
  2. keterampilan berbicara (speaking skill);
  3. keterampilan membaca (reading skill); dan
  4. keterampilan menulis (writing skill). Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan
    jalan praktik dan banyak pelatihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih
    keterampilan berpikir seseorang.
READ:  Pengertian Karya Sastra dan Unsur-Unsurnya

Hamalik  menyatakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak bertatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.

Menurut McCrimmon menulis merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas. Pendapat ini senada dengan pendapat Mary Lawrence, menulis adalah mengomunikasikan apa dan bagaimana pikiran penulis. Slamet menyatakan bahwa menulis merupakan serangkaian aktivitas (kegiatan) yang terjadi dan melibatkan beberapa fase (tahap), yaitu fase pramenulis (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan), dan pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).

Dananjaja berpendapat bahwa anekdot adalah kisah fiktif lucu pribadi seorang tokoh atau beberapa tokoh yang benar-benar ada. Hal tersebut senada dengan yang menyatakan bahwa anekdot adalah sebuah teks yang berisi pengalaman seseorang yang tidak biasa. Pengalaman yang tidak biasa tersebut disampaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk menghibur si pembaca.

Teks Anekdot sering juga disebut dengan cerita jenaka karena kelucuannya. Hal ini senada dengan Martin yang menerangjelaskan bahwa anekdot merupakan salah satu jenis humor bahkan anekdot sering dianggap sebagai humor itu sendiri. Istilah humor muncul pada abad ke-18 seiring dengan dimulainya masa pendekatan humanistic. Istilah humor digunakan untuk membedakan perilaku tertawa yang disebabkan hal-hal kurang positif seperti saling ledek(comedy), celaan (sarcasm), sindiran (satire), dan keanehan yang terjadi pada orang lain (ridicule).

Berbeda dengan penjelasan Danandjaja maupun Muthiah, beberapa ahli memaknai secara lebih luas tentang teks anekdot. Graham dalam Fatimah  menyatakan bahwa kata anekdot digunakan untuk memaknai kata “joke” dari bahasa Inggris yang bermakna suatu narasi atau percakapan yang lucu (humorous). Senada dengan berbagai pandangan terakhir, Wijana menjelaskan bahwa teks humor adalah teks atau wacana bermuatan humor untuk bersendau gurau, menyindir, atau mengkritik secara tidak langsung segala macam kepincangan atau ketidak beresan yang tengah terjadi di masyarakat penciptanya.

READ:  Jenis-Jenis Paragraf Berdasarkan Pola Pengembangannya

Priyatni menjelaskan bahwa teks anekdot merupakan sebuah cerita singkat, namun lucu dan isinya berupa sindiran. Teks yang memaparkan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan yang isinya berupa kritik atau sindiran terhadap kebijakan, layanan publik, perilaku penguasa, atau suatu fenomena/kejadian ini disebut teks anekdot. Tujuan teks anekdot adalah memberikan sindiran/kritik terhadap kebijakan, layanan publik, perilaku penguasa, atau suatu fenomena/kejadian dengan cara yang lebih menghibur dan menarik (lucu dan mengesankan). Gerot dan Wignell menyatakan bahwa teks anekdot pada umumnya terdiri atas lima bagian atau struktur generik, yaitu abstract, orientation, crisis, reaction, dan coda.

Proses Pembelajaran Menulis Teks Anekdot

Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku suatu organisasi sebagai akibat pengalaman. Pendapat ini menjelaskan bahwa suatu organisasi yang dalam hal ini adalah siswa disebut belajar apabila mengalami sebuah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dialami siswa disebut pengalaman belajar. Proses pembelajaran yang berhasil akan membuat siswa mengalami perubahan sikap dan tingkah laku baik itu saat pembelajaran berlangsung atau setalahnya.

Slavin menambahkan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu. Robbins menyatakan bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam dimensi belajar yaitu penciptaan hubungan, pengetahuan yang sudah dipahami, dan pengetahuan yang baru. Dapat dijelaskan bahwa belajar merupakan keterkaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru, bukan berangkat dari sesuatu yang benar-benar belum diketahui (nol).

Dapat dijelaskan juga bahwa siswa merupakan subjek belajar, siswa dituntut aktif mencari, menambah, dan mengembangkan informasi bukan objek belajar yang hanya menerima materi yang disampaikan guru. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik yang menyatakan bahwa pembelajaran berfungsi menyiapkan peserta didik untuk memasuki kehidupan nyata. Siswa pada hakikatnya belum siap atau sebenarnya memiliki kompetensi tetapi belum maksimal, bukan tidak memiliki kompetensi sama sekali sehingga perlu disiapkan dan sedang menyiapkan dirinya sendiri.

Belajar merupakan proses, maka untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan tingkah laku peserta didik pasti melalui tahapan demi tahapan. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar (learning act), yaitu: fase motivasi, fase pengenalan, fase perolehan, fase retensi, fase pemanggilan, fase generalisasi, fase penampilan, dan fase umpan balik. Proses pembelajaran di dalam kelas atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hendaknya juga mencakup tahapan-tahapan tersebut, mulai dari siswa membangun dan mencari informasi sendiri, memperoleh informasi dari guru, mengolah dan mengingat materi, mengalami perubahan penampilan (sikap dan tingkah laku) hingga mendapat konfirmasi dan refleksi dari guru.

READ:  Pengertian dan Jenis Makna Kata

Siswa disebut belajar apabila mengalami perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan tingkah laku. Hal ini sesuai dengan pendapat Surjadi yang mengatakan bahwa belajar berlangsung apabila terjadi perubahan pada diri peserta didik. Perubahan itu meliputi penambahan informasi, pengembangan atau peningkatan pengertian, penerimaan sikap-sikap baru, perolehan penghargaan baru, dan pengerjaan sesuatu dengan mempergunakan apa yang telah dipelajari.

Lebih lanjut Harsey dan Blanchard menjelaskan bahwa terdapat empat level perubahan dalam diri peserta didik, yakni perubahan pengetahuan, perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan prestasi kelompok atau organisasi. Meskipun banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesuksesan proses pembelajaran, tetapi terdapat komponen penting yang selalu ada di dalam proses pembelajaran di kelas yaitu guru dan siswa. Sanjaya menyatakan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik.

Hal ini didukung oleh pernyataan Uno, bahwa hakikat pembelajaran adalah perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik. Trianto juga menyatakan bahwa pembelajaran merupakan usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan peserta didiknya (mengarahkan interaksi peserta didik dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa titik fokus dalam proses pembelajaran adalah siswa. Pihak yang harus mengalami proses belajar, mengalami perubahan pengetahuan, sikap, dan tingkah laku adalah siswa. Untuk dapat mengoptimalkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, diperlukan faktor-faktor pendukung yang salah satunya adalah guru.

Selain itu, Sanjaya menyatakan bahwa komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran meliputi tujuan, isi/materi, metode, media, dan evaluasi. Berbagai komponen pembelajaran tersebut terintegrasi dalam tahapan proses pembelajaran. Tahapan proses pembelajaran menurut Standar Proses meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan. evaluasi pembelajaran.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *