Bagaimana Cara Pengelolaan Lahan Pertanian Agar Tidak Menimbulkan Masalah Lingkungan?

Bagaimana Cara Pengelolaan Lahan Pertanian Agar Tidak Menimbulkan Masalah Lingkungan? Pengelolaan lahan pertanian adalah segala tindakan atau perlakuan yang diberikan pada suatu lahan untuk menjaga dan mempertinggi produktivitas lahan tersebut dengan mempertimbangkan kelestariaannya. Tingkat produktivitas lahan sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah hujan, suhu, kelembaban, sistem pengelolaan lahan, serta pemilihan landcover.

Pengelolaan lahan sebagai salah satu komponen pengelolaan teknologi pertanian diperlukan dalam sistem pertanian berkelanjutan karena sistem pertanaman intensif bisa mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan kerusakan lingkungan seperti degradasi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Tujuan pengelolaan lahan adalah

  1. Mengatur pemanfaatan sumber daya lahan pertanian secara optimal
  2. Mendapatkan hasil maksimal
  3. Mempertahankan kelestarian sumber daya lahan

Untuk mengelola lahan pertanian agar tidak menimbulkan masalah lingkungan, adalah dengan mengkombinasikan beberapa cara berikut:

1. Mengelola Kesuburan Tanah

Mengelola kesuburan tanah merupakan langkah untuk menjaga agar tanah tetap subur. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola kesuburan tanah, diantaranya:

  1. Sistim Bera
    Sistim bera dilakukan pada lahan yang sudah diolah cukup lama dan tidak subur lagi. Caranya, biasanya lahan diistirahatkan (tidak ditanami) dalam satu musim tanam. Dalam pelaksanaannya, petani sebaiknya membagi lahannya menjadi dua bagian, satu bagian diberakan dan satu bagain tetap digarap untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
  2. Olah Jalur
    Olah jalur merupakan cara pengolahan tanah secara terbatas dalam satu jalur yang akan ditanami. Cara ini umumnya dilakukan pada lahan kering. Selain membantu mengendalikan eorsi, olah jalur juga akan sangat membantu dalam menjaga kelembaban tanah, karena air hujan akan dapat bertahan dalam dalam jalur.
  3. Olah jalur dibuat dengan menggali parit dengan lebar 30 cm dengan kedalam kira-kira 20cm. arah jalur dibuat mengikuti garis kontur anah dengan jarak antar jalur kira-kira 1 meter. Pemberian pupuk dapat dibenamkan dalam tanah dalam jalur. Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk kandang atau kompos, pupuk sebaiknya diberikan 3-4 minggu sebelum jalur ditanami, shingga pupuk dapat hancur dan siap diserap tanaman.
  4. Olah Lubang
    Variasi lain dari oleh jalur ialah olah lubang. Dalam olah lubang, yang digali bukan jalur melainkan lubang. Setiap lubang dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm kedalaman 30 cm, sedangkan jarak antar lubang disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Tanaman yang ditanam dengan cara ini umumnya tanaman pohon-pohonan dan tanaman sayuran yang bernilai tinggi, misalnya saja tomat, cabai dan kembang kol.
  5. Menentukan Pola Tanam
    Menentukan pola tanam atau kalender tanam, umumnya dilakukan dengan meganalisa kesesuaian lahan dan iklim tanaman dalam satu tahun. Penentuan pola tanam sangat penting dan erat kaitannya dengan kondisi iklim, khususnya terkait musim hujan. Cara yang dilakukan untuk menentukan pola tanam umumnya dengan mempertimbangkan hasil analisis ketersediaan air, periode pertumbuhan, dan kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan.

2. Menentukan Sistim Tanam

Penentuan sistim tanam erat kaitannya dengan efisiensi penggunaan lahan yang disesuaikan dengan kesuburan tanah dan ketersediaan air. Ada beberapa sistem tanam yang dapat digunakan, diantaranya:

  1. Kebun Pekarangan
    Kebun pekarangan merupakan kebun campuran yang tidak teratur antara tanaman tahunan (buah-buahan) dan tanaman semusim. Kebun pekarangan terletak di sekitar pekarangan dengan fungsi penyediaan karbohidrat, vitamin dan mineral, serta obat-obatan sepanjang tahun.
  2. Sistem Perkebunan/ Mokokultur
    Sistem perkebunan atau monokultur merupakan penanaman satu jenis komoditas tanaman pada satu hamparan lahan. Cara ini dimaksudkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dalam usaha tani. Komoditas yang dikembangkan umumnya komoditas tanaman pohon yang mempunyai sistem perakaran yang dalam, seperti tanaman buah-buahan. Jenis tanaman yang dipilih umumnya mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, dan biasanya menggunakan input sarana produksi yang tinggi (intensifikasi).
  3. Tumpang Sari
    Sistem tanam tumpang sari ditujukan untuk mengintensifkan kegiatan pertanian, dengan memanfaatkan sumber daya secara optimal, serta menyelamatkan sumber daya lahan dan air, serta mengurangi resiko kegagalan panen. Prinsip tumpang sari adalah keanekaragaman tanamn, dengan penanaman bermacam-macam tanaman, berupa tanaman keras/ kayu-kayuan dan buah-buahan, dengan tanaman sela semusim seperti tanaman pangan, tanaman obat-obatan, tanaman penutup dll.
    Sistem tumpang sari juga umum dilakukan oleh petani sayuran. Dimana dalam satu lahan petani menanam lebih dari satu jenis tanaman sayur, misalnya Cabai-kubis-dan sawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *