Tulislah Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Rasa Karya Putu Wijaya!

Tulislah Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Rasa Karya Putu Wijaya! Dalam pandangan ini karya sastra memiliki unsur yang membentuk. Unsur–unsur tersebut biasanya disebut dengan unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur instrinsik adalah unsur yang membentuk karya sastra itu sendiri terkait dengan unsur pembangun isi dari karya sastra, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun karya sastra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri. Sederhananya adalah unsur ekstrinsik adalah unsur pembangun yang tak tercantum dalam teks karya, seperti biografi penulis, latar sosial, latar sejarah, dll.

Unsur Intrinsik dalam Cerpen “Rasa” Karya Putu Wijaya

1. Tema

Tema yang diangkat oleh penulis dalam cerpen “Rasa” adalah tentang feminisme atau seputar wanita. Hal itu dapat dilihat dari keseluruhan cerita yang membahas seputar wanita. Pada bagian awal penulis menyampaikan pendapat melalui tokoh Aku tentang wanita ideal.

Memendangi koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip. “Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. “Kalau aku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”

Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, “Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?” Aku mengangguk.
“Ditolak, diusir, bahkan diinjek-injek pun aku masih senang. Aku kagum di Indonesia ini masih ada perempuan yang belum kepala 3 sudah jadi doktor. Sudah jadi bintang di malam gelap bagi pelaut yang sesat. Gila!”

Tidak hanya itu pada bagian-bagian berikutnya, permasalahan yang terjadi juga seputar wanita. Maka dari itu tema yang diangkat penulis dalam cerpen “Rasa” adalah feminisme atau seputar wanita.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh-tokoh dan perwatakan yang terdapat dalam cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah sebagai berikut.

  • Aku/Ayah Ami/Pak Amat
    Tokoh Aku berwatak egois dan keras kepala. Hal itu tergambar dalam perilakunya sebagai berikut.
    “Anakmu selalu begitu!” protesku kemudian kepada ibunya.
    “Habis Bapak sih tidak punya perasaan!”
    “Tidak punya perasaan bagaimana?”
    “Masak memuji perempuan di depan anak perempuan satu-satunya?”
    “Lho kenapa? Apa salahnya? Ami sudah besar. Dia harus bisa menerima kenyataan!”
    “Tidak semua kenyataan harus dipujikan di depan anak!”
    Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban. Karena istriku terus ngomel. Baru setelah kembali sendirian, aku muring-muring.
    Tetapi, tokoh Aku juga berwatak baik hati, peduli, dan penyayang terutama kepada istri dan anaknya. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.
    Aku terhenyak. Satu jam aku mondar-mandir dikili-kili perasaan. Sudah jelas sekarang, Ami ke rumah temannya untuk melarikan perasaannya yang tersinggung.
    Aku sudah menyakiti dia. Dan penyesalan selalu terlambat. Aku jadi sebal, kenapa masih membiarkan diri alpa. Kenapa aku tidak peka. Aku tidak pernah lupa Ami bukan anak kecil lagi tapi perempuan dewasa. Kenapa aku selalu memperlakukannya sebagai anak-anak yang harus selalu dilindungi?
    Tengah malam. Aku tak bisa lagi mengendalikan perasaan. Diam-diam aku pergi menjemput. Tapi di jalan aku baru sadar, sebenarnya aku belum tahu Ami menginap di rumah temannya yang mana. Terpaksa aku kembali, celakanya istriku sudah tidur. Nampaknya begitu pulas sehingga aku tidak sampai hati membangunkan. Lagi pula buat apa membangunkan macan tidur.
  • Istri/Ibu
    Istri atau Ibu dalam cerpen “Rasa” digambarkan sebagai sebagai istri yang cerewet. Seperti yang tergambar dalam kutipan berikut.
    “Kok Ami belum pulang, Bu?”
    “Ya kan belajar di rumah temannya!”
    “Tapi ini sudah malam.”
    “Ya nggak apa, Ami sudah bawa salin.”
    “O ya? Menginap di ruman teman?”
    “Memang.”
    “Kenapa?”
    Istriku membentak. “Ya, belajar!”
    Aku sudah biasa dibentak istri. Jadi tidak kaget. Tapi hanya Tuhan yang tahu, bagaimana perasaan seorang bapak kalau anak perawannya larut malam belum pulang.
  • Ami
    Ami dalam cerpen “Rasa” digambarkan sebagai sosok anak yang penurut dan mengerti perasaan ibunya. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang ceria dan penyayang terutama kepada ayah dan ibunya. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut.
    Ami terkejut. Matanya langsung berkaca-kaca seperti mau menangis. Aku jadi iri. Aku yakin mata itu tak akan mengucurkan air kalau yang sakit itu bapaknya. Tapi sudahlah. Biar saja. Itu memang nasib seorang bapak. Dan aku tidak pernah menyesal jadi seorang bapak.
    Ami buru-buru mengemasi buku-buku dan menyambar tas gendongnya.
    “Sakit apa? Sudah dibawa ke puskesmas.”
    “Tenang! Nanti Bapak ceritakan.”
    Dalam perjalanan pulang, Ami mendesak terus apa sakit ibunya. Aku terpaksa berterus-terang. Lalu blak-blakan minta maaf. Ami bingung.
    “Bapak kok minta maaf sama aku?”
    “Ya. Harus!”
    “Kenapa?”
    “Aku salah!”
    “Apa salah Bapak?”
    “Bapakmu ini sudah manula Ami. Bapak sudah kena biasan pendidikan kolonial, jadi kuno. Bapak minta maaf sebab bapak sudah menyinggung perasaanmu. Bukan maksud Bapak untuk menyindir. Sama sekali bukan. Seperti kata pepatah, burung terbang di langit dicari, burung di tangan dilepaskan. Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Bapak minta maaf.”
    Ami tertawa.
    “Kamu jangan menertawakan orang yang minta maaf.”
    “Sama sekali tidak. Tapi Bapak salah alamat.”
    “Salah alamat bagaimana?”
    “Bapak menyangka saya sudah tersinggung?”
    “Ya. Kamu sebenarnya tidak sakit dan tidak sedang belajar. Kamu pasti hanya muak pada kelakuan Bapak yang kurang menghargai kamu. Bapakmu ini memang laki-laki kuno. Sudah ketinggalan sepur. Dulu orang tua untuk merangsang anaknya maju biasanya dengan cara membanding-bandingkan. Kata Pak Iskan tukang warung itu, sebaliknya daripada silau oleh kehebatan orang lain, harusnya Bapak bangga pada kamu, sebab kamu cantik dan pintar, Ami!”
    Ami tertawa.
    “Salah alamat, Pak!”
    “Salah alamat bagaimana?”
    “Yang tersinggung itu bukan Ami, tapi ibu.”
    “Ah?”
    “Ibu. Ibu yang menyuruh Ami jangan keluar kamar, jangan makan malam di meja makan dan pergi nginap belajar di rumah Rani.”
  • I Gusti Ayu Diah Weradhi
    Tokoh ini digambarkan penulis sebagai wanita cerdas yang berhasil meraih gelar doktor pada usia muda.
  • Pak Iskan
    Pak Iskan digambarkan sebagai sosok yang bijaksana. Hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut.
    Siapa yang sakit Pak Amat?” sapa tukang warung. Aku terpaksa singgah sambil curhat.
    “Pak Iskan, situ juga punya anak gadis kan?”
    “Betul Pak, tapi anak saya putus sekolahnya di SMA. Putri Bapak saya dengar sudah hampir lulus sarjana?”
    “Ya. Tapi kelakuannya makin kekanak-kanakan. Masak bapaknya memuji perempuan cantik dia tersinggung. Apa hubungannya?!”
    Tukang warung itu, ketawa.
    “Kok pakai memuji orang lain, putri Pak Amat kan cantik dan pintarnya bukan main?”
    Aku tertegun.
    “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, Pak!”
  • Rani
    Rani adalah teman Ami yang juga digambarkan sebagai gadis yang ceria dan seorang sahabat yang baik. Hal itu tergambar pada kutipan berikut ini.
    “Kamu?”
    “Saya kembali ke rumah Rani, sebab dia sudah menunggu. Itu dia!”
    Ami menunjuk ke belakang. Aku terkejut. Rani di atas motor bebeknya ketawa sambil melambaikan tangannya di bawah bayang-bayang pohon. Perasaanku kacau. Aku malu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasanya tak ada yang sudah kupelajari dalam kehidupan yang sudah ubanan ini. Aku kira aku sudah tahu banyak, tapi jangankan perasaan istriku, perasaan anakku juga aku tak tahu. Aku murid yang tak pernah naik kelas.

3. Latar

Latar tempat yang terdapat dalam cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah rumah, toko Pak Iskan, dapur, kamar Ami, rumah Rani, dan teras rumah.

Latar suasana yang tergambar dalam cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah suasana tidak nyaman. Hal itu terjadi ketika tokoh Aku sedang menebak-nebak dan kebingungan serta merasa bersalah. Selain itu pada akhir cerita terdapat suasana nyaman ketika akhirnya tokoh Aku menyadari betapa istrinya tersebut sangat mencintainya.

4. Alur

Alur yang terdapat dalam cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah alur maju. Hal itu dapat dilihat dari keseluruhan jalan cerita yang bergerak dari permualaan, awal permasalahan, puncak permasalahan, penyelesaain permasalahan, dan penutup/koda.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama.

6. Nilai/Amanah

Nilai/amanah yang dapat diambil dari cerpen “Rasa” karya Putu Wijaya adalah saling menghargai dan mengerti terutama dalam lingkup keluarga. Selain itu cerpen ini juga mengajak untuk menyayangi anggota keluarga dengan sepenuh hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *