Bagaimana Cara Mengolah Tanah Pertanian?

Bagaimana Cara Mengolah Tanah Pertanian? Pada umumnya pengolahan tanah terdiri atas tiga tahap. Tahapan tersebut terdiri atas land clearing (membersihkan areal), pembajakan serta penggaruan. Klarifikasi mengenai tahapan pengolahan tanah akan dijelaskan berikut ini.

1. Land Clearing (Membersihkan Areal)

Pembersihan areal ialah pembersihan galengan sawah dari semua hal nan mengganggu. Pembersihan dilakukan terhadap pepohonan, semak-semak, alang-alang atau tumbuhan lainnya. Agar lebih bermanfaat rerumputan nan sudah dibersihkan tadi bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Rerumputan dan residu jerami bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak , kompos, atau bahan bakar.

Galengan sawah pada tanah pertanian memiliki fungsi nan penting. Galengan sawah berfungsi buat menahan air selama mengolah tanah agar tak mengalir keluar petakan. Fungsi lainnya berhubungan dengan pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi.

Setelah dibersihkan dari rerumputan dan tanaman, tanah diperbaiki dan dibuat lebih tinggi. Selain memperbaiki tanah, pembersihan juga bertujuan memperlancar arus air dan menekan jumlah biji gulma nan terbawa masuk ke petak sawah. Pembersihan tanah pertanian bisa dilakukan dengan tangan , cangkul, atau linggis.

2. Pembajakan

Pembajakan merupakan proses pengolahan tanah pada masa tanam. Pembajakan tanah berfungsi mengembalikan kesuburan tanah setelah masa panen. Membajak dilakukan dengan memecah lapisan tanah menjadi bongkahan-bongkahan sehingga tanah bisa digemburkan.

Membajak juga melakukan pembalikan tanah dengan cangkul, garu, waluku, atau traktor. Pembalikan dilakukan dengan kedalaman 30-50 cm bergantung dari jenis tanah. Setelah dibalik tanah diratakan sampai halus agar bisa ditanami dengan baik. Dari proses ini diharapkan terjadi proses mineralisasi bahan-bahan organik sehingga tanah menjadi gembur kembali.

Membajak tanah pertanian sebenarnya memiliki arti krusial bagi petani. Membajak membuat petani mengerti bagaimana menghasilkan produksi nan baik. Hasil produksi nan baik seharusnya didapatkan oleh petani setelah proses pembajakan. Pembajakan tanah ialah fase nan paling menghabiskan tenaga petani. Hampir empat puluh persen biaya produksi terserap pada fase ini.

Kondisi tanah pertanian Indonesia dengan tiga kali panen tiap tahunnya membuat tanah pertanian kehilangan unsur-unsur organiknya. Akhirnya tanah menjadi tandus dan bisa memengaruhi hasil produksi pertanian. Maka sebenarnya tanah sebagai media tanam harus disiapkan dengan baik. Dari sinilah sebenarnya peran sarjana- sarjana pertanian sebagai orang berilmu buat membantu para petani.

Nah, apakah selama ini global pertanian kita sudah cukup bersinergi dengan global pendidikan? Itulah nan masih menjadi tugas besar kita agar proses pembajakan ini bisa dilakukan lebih efisien dan efektif lagi.

3. Penggaruan

Penggaruan dan pembajakan tanah sebenarnya dua kegiatan nan memiliki kaitan erat. Penggaruan atau penggemburan dilakukan dua tahap. Termin pertama dengan cara menghancurkan gumpalan tanah menjadi struktur remah. Dari bentuk remah struktur tanah akan menjadi halus dan merata.

Jarak antara pembajakan dan penggaruan termin 1 berkisar 1 atau 2 minggu . Penggaruan termin dua bertujuan buat melumatkan tanah, sehingga semua tanah melumpur dan tanah menjadi halus. Tanah bisa dikatakan halus ketika menginjakkan kaki ke dalam lumpur terdapat kubangan bekas kaki dan lumpur akan saling mengisi.

Tips krusial dalam penggaruan sebaiknya dilakukan pemupukan terlebih dahulu sebelum proses ini dilakukan. Pemberian pupuk organik atau anorganik saat penggemburan membuat pupuk teraduk secara rata pada lapisan olah. Pemupukan nan diberikan lebih awal bisa merangsang perkembangan akar lebih dalam.

Semua tahapan pengolahan buat tanah pertanian ini, mulai dari pembersihan lahan, pembajakan, dan penggaruan biasanya membutuhkan waktu 16-18 hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *